Senin, 31 Juli 2017

Bawalah Terang itu!


Dunia kita senantiasa dipenuhi dengan kekacauan. Kriminalitas meningkat, kemalangan tak dapat dihindari. Kita bisa mengatakan prihatin atau turut bersedih. Tetapi berapa diantara kita yang mau berdiri dan berjuang untuk sebuah dunia yang lebih baik? Berapa diantara kita yang mau menjadi "pemain" dan bukan sekedar "menonton" dari tepi lapangan?

Di dunia nyata kita mengenal istilah "silent majority", sementara dalam dunia online ada istilah "lurkers".
Keduanya mempunyai arti yang hampir sama, yaitu sejumlah besar orang yang menempatkan diri sebagai pengikut. Menyaksikan sesuatu tetapi tidak melakukan tindakan apa-apa. Jumlah golongan ini merupakan mayoritas dari pengguna internet dan mungkin juga mayoritas orang yang hidup di dunia nyata.

Apakah ada perubahan yang bisa terjadi dari "aksi diam ini?"
Apakah dunia menjadi lebih baik dengan berdiam diri?

Yesus tidak berdiam diri. Ia selalu bertindak untuk sebuah perubahan.

"Ya tetapi saya bukan Yesus, saya tidak sempurna, saya tidak terkenal, saya tidak menarik, saya tidak bisa membuat mujizat"

Sederet alasan yang semuanya mengacu pada diri kita sebagai "saya"

Senin, 24 Juli 2017

Mengapa Ia menciptakan Air Mata?




Perjalanan hidup tidaklah selalu mudah. Tidak seperti di film drama yang dalam 26 episode semuanya bisa berakhir. Hidup itu benar-benar hidup dalam realita, bukan dalam tulisan novel atau akting di layar kaca. Hidup itu tidak pernah mudah. Sejak manusia diusir dari Taman Eden, hidup memang ditentukan menjadi penuh dengan perjuangan. Untuk apapun harus diperjuangkan.

Di dalam berjuang, kita akan mengeluarkan semua upaya yang kita mampu untuk tetap berdiri dan bergerak mencapai apa yang sedang diperjuangkan. Tetapi, ada masanya kita mengalami kelelahan. Ada perasaan “its enough”, sudah cukup. Timbul juga pertanyaan “will it works?” “Apakah yang saya perjuangkan ini akan berhasil?”

Jumat, 21 Juli 2017

Selamat Tinggal Chester


Kematian Chester Bennington cukup membuat saya terguncang. Saya pernah (dan masih) gemar mendengarkan lagu-lagu Linkin Park. Suara vokal unik dari Chester Bennington membuatnya benar-benar stand out. Chester tampak selalu bernyanyi dengan sepenuh hati. Jeritan dan teriakan khasnya selalu menghiasi penampilan Linkin Park.

Lirik-lirik lagu Linkin Park yang berbicara seputar gejolak emosi benar-benar menemani masa-masa sulit di dalam hidup saya. Mereka mampu menyuarakan pergumulan-pergumulan yang mungkin bagi saya atau bagi orang-orang lainnya ditutup rapat, karena takut "dosa" . Takut "dosa" kalau kecewa sama Tuhan, takut "dosa" kalau marah sama Tuhan.

Apakah Tuhan terlalu tinggi untuk diraih? Apakah Ia memang begitu menakutkan?
Sampai-sampai kita harus bersembunyi dalam kemunafikan.

Selasa, 18 Juli 2017

Perundungan (Bullying) Terhadap Orang dengan Disabilitas


Muhammad Farhan, adalah nama dari seorang mahasiswa yang menjadi korban perundungan di Kampus Universitas Gunadarma. Farhan adalah seorang mahasiswa yang hidup dalam spektrum autisme. Dalam berita yang disebarkan oleh beberapa media dituliskan bahwa Farhan adalah mahasiswa berkebutuhan khusus yang dirundung oleh beberapa mahasiswa lainnya, akan tetapi tidak dijelaskan alasan Farhan menjadi objek perundungan tersebut.

Nampaknya berita ini menjadi viral karena yang menjadi korban adalah orang dengan berkebutuhan khusus. Jika yang mengalami perundungan adalah orang “tanpa berkebutuhan khusus” maka peristiwa perundungan mungkin masih dianggap sebagai kewajaran, dan beritanya tidak akan”se-viral” berita tentang Farhan. Perundungan, secara diam-diam masih dianggap wajar oleh sebagian orang, entah dilakukan melalui media sosial atau dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan ironisnya institusi pendidikan pun tidak mampu menjadi tempat percontohan ruang anti-perundungan karena perundungan tidak sewajarnya dialami oleh setiap orang, baik orang dengan disabilitas maupun orang “tanpa disabilitas.”

Kamis, 13 Juli 2017

Kelemahanku tidak Menutupi Kekuatan Tuhan


Sebagian besar orang yang dipilih oleh Tuhan di dalam Alkitab memiliki kelemahan.

Ada sifat penakut dalam diri Gideon meskipun Tuhan sudah berbicara sendiri kepadanya.Ada sifat memberontak dari diri Yunus yang sengaja menyimpang dari kehendak Tuhan. Ada juga sifat pilih kasih dari Yakub yang membuat Yusuf dibenci saudara-saudaranya.

Meskipun demikian, di tengah ketidaksempurnaan mereka, karya Tuhan tetap bisa berjalan melalui hidup mereka.

Seringkali kita menjadikan kelemahan diri kita sebagai alasan untuk tidak mau melayani Tuhan. Karena merasa masih kurang mampu atau kurang layak. Padahal yang sebenarnya terjadi dalam pelayanan adalah lebih banyaknya Tuhan berkarya melalui kita sebagai alatnya.

Rabu, 12 Juli 2017

Menjaga Langkah Anak di Dunia Online


Dewasa ini kita mengakui bahwa peranan dunia online semakin mendominasi kehidupan kita. Mulai dari media sosial, transportasi online, game online, hiburan online, bahkan di Amerika dan Eropa, gereja online juga sudah mulai bertumbuh. Gereja-gereja ini memanfaatkan media Youtube sebagai sarana untuk menghubungkan jemaat dengan pelaksanaan ibadah. Jemaat tinggal menyalakan internet dan bisa mengikuti prosesi ibadah melalui Youtube.

Memang pada dasarnya segala sesuatu dapat digunakan untuk hal yang baik, yang dapat bertujuan untuk memuliakan Tuhan. Tetapi di sisi lain, hal-hal negatif dari dunia online juga mulai menjamur dan menyebar. Dan penyebaran "penyakit online" ini menyasar pada pangsa pasar yang paling rentan, yakni anak-anak dan remaja. Mereka yang belum matang kedewasaannya sangat mudah untuk dipengaruhi, tidak hanya sebagai konsumen tetapi lebih jauh lagi, menjadi korban kriminalitas.

Selasa, 11 Juli 2017

Di Bawah Kaki Yesus, Berdoa dan Menjalani Kehidupan





Berdoa di bawah kaki Yesus,
menjalani di bawah kaki Yesus,
hasilnya diserahkan di bawah kaki Yesus.

Meskipun kelihatan singkat, prinsip ini mempunyai makna yang mendalam. Saat memohon, kita benar-benar datang dengan kerendahan hati sebagai orang berdosa yang sebenarnya tidak layak untuk menghadap Tuhan. Di bawah kaki Tuhan, kita jujur mengungkapkan keluh kesah dan harapan kita, termasuk juga kekecewaan kita pada Tuhan.

Seringkali justru doa yang tanpa kata-kata untuk diucapkan baik melalui mulut maupun di dalam hati dapat lebih dipahamiNya. Ketika kita hanya bisa bercucuran air mata karena tidak tahu apa lagi yang harus kita perbuat. Karena kita mengimani bahwa Ia lebih melihat hati daripada rupa.

Sabtu, 08 Juli 2017

Yesus Wong Ndeso




Ungkapan Ndeso yang belakangan ini menjadi pembahasan di media sosial pada mulanya merupakan kata yang sebenarnya biasa saja. Pelawak Tukul menjadikan kata Ndeso sebagai tambahan dari materi candaan yang ia sampaikan dalam acaranya. Sejauh digunakan oleh Tukul, istilah Ndeso kelihatan memberikan hiburan tersendiri bagi para penonton. Tidak ada yang merasa tersinggung dengan candaan Tukul.

“Ndeso” kembali menjadi populer saat digunakan oleh Kaesang dalam video blog yang ia buat. Sebagian menganggapnya sebagai candaan saja seperti yang dilakukan oleh Tukul dan membenarkan kritik yang disampaikan oleh Kaesang. Tetapi ada juga yang tersinggung dan menganggap Ndeso sebagai konotasi yang negatif.

“Ndeso” pada dasarnya merupakan bentuk padanan kata dari Desa. Karena bahasa Jawa banyak mengganti lafal “a” menjadi “o” seperti pada kata “Jawa” sering dikatakan “Jowo” ketika berdialog, jadilah desa bergeser menjadi “Deso”. Ditambah dengan lafal medog khas Jawa, “Deso”, dilafalkan menjadi “Ndeso”, seperti kata “tidak” menjadi “ndak”.

Apakah “Ndeso” dianggap negatif atau positif, itu kembali kepada konteks dan maksud pengucapan kata tersebut.

Di dalam Alkitab, Yesus beberapa kali dianggap “Ndeso”, karena ia lahir di kota kecil dan memulai pelayanannya di Galilea, dimana Galilea saat itu bukanlah kota yang menjadi primadona. Beda dengan Yerusalem atau Roma. Silahkan dicek betapa Paulus disegani ketika ia mengatakan bahwa ia adalah warga Roma atau orang Rum, Kisah Para Rasul 16 :37-39, Kisah Para Rasul 22 : 25-29, Kisah Para Rasul 23 : 23 -27.

Kembali lagi kepada Yesus.

Natanael, salah satu pengikut pertamanya sempat menyangsikan Yesus dengan mengatakan “mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” (Yohanes 1 : 46)

Rabu, 05 Juli 2017

Yesus dan Panggung yang Gagal




Pada awal kisah Yesus berjumpa murid-muridNya, ada bagian dimana Yesus mengajar di atas perahu. Popularitas Yesus yang saat itu sedang meningkat membuat orang-orang berdesakan dan menimbulkan kesulitan bagiNya untuk mengajar. Mungkin saat itu para pendengarNya berusaha agar bisa mendapat posisi sedekat mungkin dengan Yesus sehingga mereka saling dorong untuk bisa mendapatkan posisi yang terbaik.

Yesus tampak harus memikirkan cara yang tepat agar bisa mengajar dengan suasana yang tertib. Ini juga tentunya mengingatkan kita pada kejadian lain dimana Yesus meminta orang-orang duduk berkelompok sebelum membagi-bagikan roti yang telah Ia lipatgandakan. Ia ingin pelayanan yang Ia lakukan berjalan dengan baik. Yesus tidak ingin orang menjadi celaka (terinjak-injak, tergencet, terjatuh, dan lain-lain) saat mendengarkan FirmanNya 

Yesus memikirkan jemaat yang Ia layani. Bagaimana caranya agar semua orang bisa terlayani dengan baik, dengan teratur, tanpa ada yang celaka?

Ia berusaha mendapatkan win-win solution atau solusi yang baik untuk semuanya. Ia tidak menunggu waktu yang tepat untuk menyampaikan Firman, tetapi ia berpikir untuk tetap menyampaikan Firman bagaimanapun caranya.

Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu.
Lukas 5 : 2-3

Pada bagian berikutnya, Yesus melihat dua perahu yang ada di pantai lalu menaiki salah satunya, yaitu perahu Simon. Perahu yang sebelumnya digunakan oleh Simon untuk mencari ikan. Sebuah perahu nelayan. Inilah yang dijadikan “panggung” oleh Yesus.

Ini bagian yang menarik untuk dicermati.