Rabu, 25 April 2018

Caerus - Hidup ini adalah Kesempatan




a neglected occasion cannot be recovered.”

Caerus adalah salah satu dewa dari mitologi Yunani. Dilambangkan sebagai dewa kesempatan, the god of fleeting moment. Memiliki sepatu bersayap dan digambarkan berjinjit (berdiri dengan ujung ibu jari kaki) karena selalu berlari secepat angin. Memegang timbangan keseimbangan (scales balanced) dengan ujung yang tajam untuk menggambarkan kesempatan yang datang dan pergi dengan cepatnya. Caerus hanya memiliki rambut di kepala bagian depan, dan tidak memiliki rambut di kepala bagian belakang, sehingga ketika dia berlalu, tak ada seorang pun yang mampu menangkapnya.  Hal ini menggambarkan kesempatan yang ada didepan kita harus cepat diraih dan kesempatan yang telah berlalu tidak dapat kita raih lagi. A moment must be grasped, otherwise the moment is gone and can not be re-captured

Selasa, 10 April 2018

Raja dan Keempat Istrinya

         


           Suatu kali saya mendengar tentang sebuah perumpaan yang diceritakan oleh Sean Buranahiran tentang seorang raja yang memiliki 4 istri. Suatu hari sang raja sakit keras dan merasa akan segera meninggal. Maka sang raja bertanya kepada istri keempatnya yang sangat sering dia manjakan dengan membalikan perhiasan dan baju-baju mahal, “maukan kau menemani aku menuju akhirat?” tetapi sang istri keempat menjawab “maaf, hamba tidak bisa.” Maka sang raja bertanya dengan pertanyaan yang sama kepada istri ketiga yang sangat dia banggakan kepada raja-raja negara tetangga, karena parasnya yang sangat cantik. Akan tetapi istri ketiganya menjawab, “maafkan hamba tidak mau. Selepas baginda meninggal, hamba akan menikah lagi.” 

Senin, 02 April 2018

Trust His Heart



Saat ini, saya sedang menjalani masa pendidikan saya yang baru. Rasanya campur aduk antara senang, bangga, takut dan was-was. Senang karena akhirnya usaha saya selama 2 tahun terakhir berbuah manis. Bangga karena untuk diterima dalam pendidikan ini tidaklah mudah, banyak pengorbanan fisik, mental, waktu, pikiran dan tentu saja materi yang tidak sedikit. Was-was karena harus mulai dengan mengenali lingkungan yang baru, staff, pengajar dan tentu saja para senior. Dimana para senior selalu diidentikkan dengan sosok yang mengerikan, egois, galak, dan semua stigma negatif lainnya.

                Hari-hari berlalu dengan cepat. Hingga tak terasa sudah sebulan saya lalui. Kekhawatiran saya dengan sosok para senior, Tuhan bukakan jalan. Ternyata senior disini tidaklah segahar yang saya bayangkan atau yang teman-teman saya katakan. Sudah beberapa kali saya diajak bergabung dengan para senior untuk makan bersama, nonton bersama, bercanda dengan mereka. Dan yang paling saya tak sangka adalah, kami bisa foto studio bersama-sama. Ini bisa dikatakan amat sangat langka sekali, foto bersama dalam satu frame dari angkatan paling senior sampai dengan kami yang paling junior. Biasanya foto bersama hanya dilakukan dengan teman yang seangkatan, atau dengan kata lain, foto dilakukan oleh masing-masing angkatan saja.